bird

animasi blog

Selasa, 13 November 2012


BAB I
PENDAHULUAN


Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul pada umumnya konflik merupakan gejala social yang sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatar belakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Di dalam masyarakat majemuk, akan mudah terpicu oleh adanya konflik antar sesame anggota masyarakat yang saling tidak terpelihara dengan baik. Kesenjangan dan kecemburuan social serta isu SARA yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Masyaraka merupakan makhluk social yang saling berinteraksi. Dalam inreaksi yang terjadi di dalam masyarakat sering kali dihadapkan dengan situasi yang disebut dengan konflik ( pertentangan/pertikaian ). Pada masa kemerdekaan dan reformasi , konflik-konflik social seperti yang terjadi di Ambon ,Nanggroe Aceh Darussalam,Poso dan diberbagai daerah lainnya yang masih terjadi. Apalagi sekarang yang sedang terjaidi di seluruh dunia adalah konflik yang terjadi antara umat muslim dengan produser pembuat film yang berjudul “ The Innouccens of Islam”yang menceritakan tentang kehidupan nabi Muhammad namun pembuat film itu tidak menceriakan kehidupan nabi Muhammad yang yidak sesuai dengan yang diceritakan di dalam Al-Qur’an. Dan itu memicu konflik umat muslim diseluruh dunia dan banyak korban yang berjatuhan .

BAB II
PERUMUSAN MASALAH

A.    PENGERTIAN KONFLIK BERDASARAKAN PARA AHLI:
Beberapa para ahli mengemukakan pendapatanya mengenai definisi koflik , diantaranya sebagai berikut :
a)      Menurut Berstein (1965), konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan , yang tidak dapat dicegah. Konflik merupakan potensi yang memberikan pengaruh positif (+) dan ada pula yang negative (-)  di dalam interaksi manusia .
b)      Menurut DR. Robert M.Z Lawang , konflik itu adalah perjuangan untuk memperoleh nilai  status ,kekuasaan , dimana tujuan dari mereka yang berkonflik , tidak hanya memperoleh  keuntungan tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
c)      Menurut Drs. Ariyono Suyono , konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak berusaha menggagalkantercapainya tujuan masing-masin yang disebabkan adanya perbedaan pendapat  nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak
d)     Menurut James W. Vander Zanden ,konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan , kekuasaan , status atau wilayah tempat pihak saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan , merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka
e)      Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses social dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menanatang pihak lawan yanh disertai dengan ancaman dan atau kekerasan
f)       Menurut Nardjana (1994) ,Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.
g)      Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4)
h)      Menurut Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) adalah yang kurang lebih memiliki arti bahwa konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
i)        Menurut Stoner Konflik organisasi adalah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi, atau kepribadian. (Wahyudi, 2006:17)

B.     FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK :

Konflik merupakan sebuah proses interaksi social manusia untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. oleh sebab itu , konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan social di antar individu yang terlibat dalam suatu interaksi social.

a)      Factor-Faktor Penyebab Konflik secara Umum :

Ø Perbedaan antar individu
yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

Ø Perbedaan latar belakang kebudayaan
sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.

Ø Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
 Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.

Ø Perubahan-perubahan social
nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.

b)     Faktor-Faktor Penyebab Konflik di Indonesia :

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk rawan terhadap terjadinya suatu konflik social karena secara garis besar struktur social masyarakat di indonesia terbagi ke dalam berbagai suku bangsa , agama ataupun golongan yang beragam

Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik pada masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
1)       Apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain . contohnya adalah konflik yang terjadi Aceh dan Papua.
2)      Apabila terdapat persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup antara kelompok berlainan suku bangsa. Contohnya : konflik yang terjadi du Sambas
3)      Apabila terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya : konflik yang terjadi di Sampit
4)      Apabila terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya : konflik antar suku di pedalaman Papua .
Oleh sebab itu, terdapat berbagi bentuk konflik dalam masyarakat.

C.    BENTUK-BENTUK KONFLIK

Secara garis besar berbagi konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk konflik berikut ini :


a.      Berdasarakan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi koflik destruktif dan konflik konstruktif.
1)      Konflik destruktif merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang,rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelomppk terhadap pihak lain. Pihak konflik terjadi bentrokan-bentrokan  fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Contohnya : konflik Ambon, Poso, Kupang, dan Sambas.
2)      Konflik kontruktif merupakan konflik yang bersifat fungsional , konflik inimmuncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu permasalaha. Konflik ini akan menghasilkan suatu consensus dari perbedaan pendapat tersebut dan mebghasilakn suatu perbaikan. Misalnya : perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi

b.      Berdasarkan Posisi Pelaku yang Berkonflik
Berdasarkan posisi pelaku yang berkoflik, konflik dibedakan menjadi konflik vertical, konflik horizontal, dan konflik diagonal.
1)      Konflik vertical merupakan konflik antar komponen masyarakat di dalam satu struktur yang memiliki hierarki. Contohnya : konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor
2)      Konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang relative sama. Contohnya : konflik yang terjadi antarorganisasi massa.
3)      Konflik diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketdakadilan alokasui sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya :konflik Aceh

c.       Berdasarkan Sifat Pelaku yang Berkonflik
1)      Konflik terbuka, merupakan konflik yang diketahui oleh semua pihak. Contohnya : konfik Palestina Israel
2)      Konflik tetutup, merupakan konflik yang hanya diketahui oleh orang-orang atau kelompok yang terlibat konflik.

d.      Berdasarkan Konsentrasi Aktivitas Manusia di Dalam Masyarakat
Konflik dibedakan menjadi konflik social, konflik politik ,konflik ekonomi , konflik budaya dan konflik ideology.
1)      Konflik social merupakan konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan social dari pihak yang berkonflik. Konflikk social ini dapat dibedakan menjai konflik social vertical dan konflik horizontal. Konflik ini seringkali terjadi karena adanya provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a.       Konflik social vertical , yaitu komflik yang terjadi antara masyarakat dan Negara.
b.      Konfik social horizontal, yaitu konflik yang terjadi antaretnis suku,golongan ,atau antar kelompok masyarakat
2)      Konflik politik merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan .
3)      Konflik ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebuta sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik.
4)      Konflik budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaab kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik.
5)      Onflik ideology merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang.

e.       Berdasarkan Cara Pengelolaan
Berdasarkan cara pengelolaannya, koflik dapat dibedakan menjadi konflik interindividu, konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok social.
1)      Konflik interindividu merupakan tipe yang paling erat kaitannya dengan emosi individu hingga tingkat keresahan yang paling tinggi. Konflik dapat muncul dari dua penyebab , yaitu karena kelebihan beban( role overloads ) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan peranan (personrole incompatibilities). Daalm kondisi pertama seseorang mendapat beban berlebihan akibat status (kedudukan) yang dimilki, sedang dalam kondisi yang kedua seseorang memang tidak memiliki kesesuaian yang cukup untuk melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya. Perspektif konflik interindividu mencakup tiga macam situasi alternatifberikut.
a)      Konflik pendekatan-pendekatan , seseorang harus memilih di antara dua buah alternative behavior yang sama-sama atraktif
b)      Konflik menghindari-menghindari , seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan-tujuan yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan
c)      Konflik pendekatan-menghindari multiple , seseorang menghadapi kemungkinan pilihan kombinasi multiple, dari konflik pendekatan-menghindari
2)      Konflik anatar individu merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan satu orang atau lebih, sifatnya kadang-kadang substantive, menyangkut perbedaan gagasn, pendapat , kepentingan atau bersifat emosinal, menyangkut perbedaan selera dan perasaan like/dislike (suka/tidak suka).
3)      Konflik antar kelompok merupakan konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai makhluk social , karena mereka hidup dalam kelompok-kelompok.

D.    DAMPAK ADANYA KONFLIK

a.      Dampak secara langsung
Dampak secara langsung merupakan dampak yang secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik. Adapun dampak secara langsung  diantaranya sebagai berikut:
1.      Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lainnya.
2.      Adanya perubahan kepribadian seseorang , seperti selalu memunculkan rasacuriga, rasa benci, dan ajhirnya dapat berubah menjadi tindakan kekerasan.
3.      Hancurnya korban jiwa da harta benda , konflik tersebut berubah menjadi tindakan kekerasan.
4.      Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan
5.      Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu konflik berlanjut menjadi tindakan kekerasan.
6.      Pendiddikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana pendidikan

b.      Dampak tidak langsung
Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat langsung dalam sebuah konflik , ataupun dampak jangka panjang dari suatu konflik yang tidak secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik.

c.       Dampak Positif Adanya Konflik
 Adanya dampak yang disakan secara tidak langsung maupun langsung , sebuah konflik memiliki sisi positif. Yaitu sebagai berikut:
1.      Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok ( in group solidarity )
2.      Munculnya pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi konflik.
3.      Membantu menghidupkan kembali norma-norma baru.
4.      Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang. Misalnya adanya kesadaran dari pihak-pihak yangb berkonflik untuk bersatu kembali yang berlarut tidak membawa keuntungan bagikedua belah pihak

E.     MODEL PENYELESAIAN KONFLIK

Metode penyelesaian konflik yang digunakan adalah dengan cara “Model Intervensi pihak Ketiga” yaitu dengan cara negosiasi. Pengertian negosiasi menurut para ahli adalah :

1.      Hartman, definsi dan pengertian negosiasi berbeda – beda tergantung dari sudut pandang kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu proses negosiasi. Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat dalam proses negosiasi, yakni pihak pembeli dan pihak penjual.
2.      Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling member dan menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.
3.      Casse, negosiasi adalah proses dimana paling sedikit ada dua pihak dengan persepsi, kebutuhan dan motivasi yang berbeda mencoba untuk bersepakat tentang suatu hal demi kepentingan bersama.

Dalam kasus ini perlu adanya perundingan untuk mendapatkan kesepakatan. Sehingga antara pihak perusahaan dan karyawan mendapatkan haknya yang sesuai dan tidak lagi menimbulkan konflik. Dengan negosiasi menjadi sama-sama tau apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan.
Penyelesaian konflik harus melibatkan seperangkat perubahan dinamis, yang melibatkan penurunan perilaku konflik, perubahan sikap, & transformasikan hubungan/ kepentingan yang berbenturan yang berada dalam inti struktur konflik. Konflik sebagai proses dinamis, dimana struktur, sikap & perilaku secara konstan berubah & saling pengaruhi. Ketika konflik muncul, kepentingan pihak-pihak yang bertikai masuk dalam konflik/ hubungan dimana mereka berada menjadi penindas.

F.     CARA PENGENDALIAN KONFLIK

Pengendalian suatu konfik hanya mungkin dapat dilakukan apabia berbagai pihak yang berkonflik terorganisir secra jelas. Menekan sebuah konflik agar tidak berlanjut menjadi sebuah tindak kekerasan memerlukan strategi pendekatan yang tepat.

a.      Pengendalian secara umum
1)      Konsiliasi
Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil.
2)      Arbitrasi
Arbitrasi merupakan bentuk pengendalian sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya.
3)      Mediasi
Mediasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial diman pihak-pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator.
4)      Ajudication
Merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan

b.      Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik
Disamping cara-cara tersebut diatas , gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam menghadapi situasi konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan relatif atas apa yang dinamakan cooperativeness dan assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok sendiri. Gambar berikut ini menunjukan lima gaya manajemen konflik berkaitan dengan adanya tekanan  relatif diantara  keinginan untuk menuju ke arah cooperativeness atau assertiveness sesuai dengan intensitasnya , mulai dari yang rendah sampai dengan yang tinggi.

c.       Hasil Manajemen koflik
Dari gaya manajemen konflik tersebut kemungkinan hsil yang didapat adalah sebagai berikut
1)      Konflik Kalah-Kalah
2)      Konflik Menang-Kalah
3)      Konflik Menang-Menang


BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN

Bahwa konflik adalah suatu proses yang bermula dari konflik lama yang masih terpendam. Jika tidak diselesaikan akan semakin membesar dan membahayakan organisasi. Kemudian Untuk menyelesaikannya, Solusi lah yang tepat untuk diambil dalam membereskan suatu masalah. karena tanpa solusi masalah tidak akan selesai dan malah akan berakibat panjang untuk kedepannya baik dalam kehidupan sosial maupun dalam Organisasi/Perusahaan.
Kemampuan menangani konflik tentang terutama yang menduduki jabatan pimpinan. Yang terpenting adalah mengembangkan pengetahuan yang cukup dan sikap yang positif terhadap konflik, karena peran konflik yang tidak selalu negative terhadap organisasi.
Dengan pengembalian yang cukup senang, pimpinan dapat cepat mengenal, mengidentifikasi dan mengukur besarnya konflik serta akibatnya dengan sikap positif dan kemampuan kepemimpianannya, seorang pimpinan akan dapat mengendalikan konflik yang akan selalu ada, dan bila mungkin menggunakannya untuk keterbukaan organisasi dan anggota organisasi yang dipimpinnya. Tentu manfaatnya pun dapat dirasakan oleh dirinya sendiri.

B.   SARAN
Sebaiknya apabila ada perselisihan atau ada pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat sebaiknya selesaikanlah dengan cara bermusyawarah antar individu , antar kelompok yang sedang berkonflik atau berselisih paham. Karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri atau sangat memerlukan adanya sosialisasi dan interaksi social antar warga masyarakat di sekitarnya. Tidak semua dapat diselesikan melalui kekerasan , karena hal itu juga menyebabkan kerugian pada individu itu sendiri.

C.   PENUTUP
Jika ada salah-salah kata, pengucapan, pengejaan, penulisan dan penyebutan sumber saya selaku penyebar dan penyusun makalah ini meminta maaf sebanyak-banyaknya. Saya menulis makalah ini untuk memenuhi tugas dari sekolah guna menambah nilai tugas pelajaran TIK.

DAFTAR PUSAKA

Ø Buku paket sosiologi SMA kelas XI edisi ketiga tahun 2007, penerbit Yudhistira