BAB I
PENDAHULUAN
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere
yang berarti saling memukul pada umumnya konflik merupakan gejala social yang
sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat. konflik diartikan sebagai suatu
proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah
satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatar belakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu
dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri
fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya.
Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik
merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat
pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok
masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya
masyarakat itu sendiri.
Di dalam masyarakat majemuk, akan mudah terpicu
oleh adanya konflik antar sesame anggota masyarakat yang saling tidak terpelihara dengan
baik. Kesenjangan dan kecemburuan social serta isu SARA yang akhir-akhir ini
terjadi di Indonesia. Masyaraka
merupakan makhluk social yang saling berinteraksi. Dalam inreaksi yang terjadi
di dalam masyarakat sering kali dihadapkan dengan situasi yang disebut dengan
konflik ( pertentangan/pertikaian ). Pada masa kemerdekaan dan reformasi ,
konflik-konflik social seperti yang terjadi di Ambon ,Nanggroe Aceh
Darussalam,Poso dan diberbagai daerah lainnya yang masih terjadi. Apalagi
sekarang yang sedang terjaidi di seluruh dunia adalah konflik yang terjadi
antara umat muslim dengan produser pembuat film yang berjudul “ The Innouccens
of Islam”yang menceritakan tentang kehidupan nabi Muhammad namun pembuat film
itu tidak menceriakan kehidupan nabi Muhammad yang yidak sesuai dengan yang
diceritakan di dalam Al-Qur’an. Dan itu memicu konflik umat muslim diseluruh
dunia dan banyak korban yang berjatuhan .
BAB II
PERUMUSAN
MASALAH
A.
PENGERTIAN
KONFLIK BERDASARAKAN PARA AHLI:
Beberapa
para ahli mengemukakan pendapatanya mengenai definisi koflik , diantaranya
sebagai berikut :
a)
Menurut Berstein (1965), konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan ,
yang tidak dapat dicegah. Konflik merupakan potensi yang memberikan pengaruh
positif (+) dan ada pula yang negative (-) di dalam interaksi manusia .
b)
Menurut DR. Robert M.Z Lawang , konflik itu adalah perjuangan untuk
memperoleh nilai status ,kekuasaan ,
dimana tujuan dari mereka yang berkonflik , tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan
saingannya.
c)
Menurut Drs. Ariyono Suyono , konflik adalah proses atau keadaan di mana
dua pihak berusaha menggagalkantercapainya tujuan masing-masin yang disebabkan
adanya perbedaan pendapat nilai-nilai
ataupun tuntutan dari masing-masing pihak
d)
Menurut James W. Vander Zanden ,konflik diartikan sebagai suatu
pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan , kekuasaan ,
status atau wilayah tempat pihak saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan
, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka
e)
Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses social dimana orang
perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan
menanatang pihak lawan yanh disertai dengan ancaman dan atau kekerasan
f)
Menurut Nardjana
(1994) ,Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan
atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain,
sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.
g)
Menurut Killman
dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya
ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada
dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang
telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi
atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993,
p.4)
h)
Menurut Wood,
Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud
dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) adalah
yang kurang lebih memiliki arti bahwa konflik
adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju
terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau
dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.
i)
Menurut Stoner
Konflik organisasi adalah mencakup ketidaksepakatan soal alokasi
sumberdaya yang langka atau peselisihan soal tujuan, status, nilai, persepsi,
atau kepribadian. (Wahyudi, 2006:17)
B.
FAKTOR-FAKTOR
PENYEBAB TERJADINYA KONFLIK :
Konflik merupakan
sebuah proses interaksi social manusia untuk mencapai tujuan dan cita-citanya.
oleh sebab itu , konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan-perbedaan social di
antar individu yang terlibat dalam suatu interaksi social.
a)
Factor-Faktor
Penyebab Konflik secara Umum :
Ø Perbedaan antar individu
yang
meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang
unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda
satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau
lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab
dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan
kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman,
tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena
berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
Ø Perbedaan latar belakang kebudayaan
sehingga
membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola
pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu
pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
Ø Perbedaan kepentingan antara
individu atau kelompok
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang
kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan,
masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang
berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan
hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang
menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh
ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang
bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu,
pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan
membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari
lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan
kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan
mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan
ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula
dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya
konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan
kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai,
sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri
dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
Ø Perubahan-perubahan social
nilai yang
cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi,
tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan
tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat
pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan
konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya
bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat
industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti
menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya.
Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam
organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi
individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak
ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan
istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara
cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di
masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan
karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.
b) Faktor-Faktor Penyebab Konflik di
Indonesia :
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk rawan terhadap terjadinya suatu
konflik social karena secara garis besar struktur social masyarakat di
indonesia terbagi ke dalam berbagai suku bangsa , agama ataupun golongan yang
beragam
Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya
konflik pada masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
1)
Apabila
terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain . contohnya adalah
konflik yang terjadi Aceh dan Papua.
2)
Apabila terdapat persaingan dalam mendapatkan mata
pencaharian hidup antara kelompok berlainan suku bangsa. Contohnya : konflik
yang terjadi du Sambas
3)
Apabila terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan
dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya : konflik
yang terjadi di Sampit
4)
Apabila terdapat potensi konflik yang terpendam,
yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya : konflik antar suku di pedalaman
Papua .
Oleh sebab
itu, terdapat berbagi bentuk konflik dalam masyarakat.
C. BENTUK-BENTUK KONFLIK
Secara garis besar berbagi konflik dalam masyarakat dapat
diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk konflik berikut ini :
a. Berdasarakan Sifatnya
Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi koflik destruktif
dan konflik konstruktif.
1)
Konflik
destruktif merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang,rasa
benci dan dendam dari seseorang ataupun kelomppk terhadap pihak lain. Pihak
konflik terjadi bentrokan-bentrokan fisik
yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Contohnya : konflik Ambon,
Poso, Kupang, dan Sambas.
2)
Konflik
kontruktif merupakan konflik yang bersifat fungsional , konflik inimmuncul karena
adanya perbedaan pendapat dari kelompok-kelompok dalam menghadapi suatu
permasalaha. Konflik ini akan menghasilkan suatu consensus dari perbedaan
pendapat tersebut dan mebghasilakn suatu perbaikan. Misalnya : perbedaan
pendapat dalam sebuah organisasi
b. Berdasarkan Posisi Pelaku yang
Berkonflik
Berdasarkan posisi pelaku yang berkoflik, konflik dibedakan menjadi
konflik vertical, konflik horizontal, dan konflik diagonal.
1)
Konflik
vertical merupakan konflik antar komponen masyarakat di dalam satu struktur yang
memiliki hierarki. Contohnya : konflik yang terjadi antara atasan dengan
bawahan dalam sebuah kantor
2)
Konflik
horizontal merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang
memiliki kedudukan yang relative sama. Contohnya : konflik yang terjadi
antarorganisasi massa.
3)
Konflik
diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketdakadilan alokasui
sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang
ekstrim. Contohnya :konflik Aceh
c. Berdasarkan Sifat Pelaku yang Berkonflik
1)
Konflik
terbuka, merupakan konflik yang diketahui oleh semua pihak. Contohnya : konfik
Palestina Israel
2)
Konflik
tetutup, merupakan konflik yang hanya diketahui oleh orang-orang atau kelompok
yang terlibat konflik.
d. Berdasarkan Konsentrasi Aktivitas
Manusia di Dalam Masyarakat
Konflik dibedakan menjadi konflik social, konflik politik ,konflik
ekonomi , konflik budaya dan konflik ideology.
1)
Konflik
social merupakan konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan
social dari pihak yang berkonflik. Konflikk social ini dapat dibedakan menjai
konflik social vertical dan konflik horizontal. Konflik ini seringkali terjadi
karena adanya provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
a.
Konflik social vertical , yaitu komflik yang terjadi
antara masyarakat dan Negara.
b.
Konfik social horizontal, yaitu konflik yang terjadi
antaretnis suku,golongan ,atau antar kelompok masyarakat
2)
Konflik
politik merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan yang
berkaitan dengan kekuasaan .
3)
Konflik
ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebuta sumber daya ekonomi dari pihak
yang berkonflik.
4)
Konflik
budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaab kepentingan
budaya dari pihak yang berkonflik.
5)
Onflik
ideology merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh
seseorang atau sekelompok orang.
e. Berdasarkan Cara Pengelolaan
Berdasarkan cara pengelolaannya, koflik dapat dibedakan menjadi konflik
interindividu, konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok social.
1)
Konflik interindividu merupakan tipe yang paling
erat kaitannya dengan emosi individu hingga tingkat keresahan yang paling
tinggi. Konflik dapat muncul dari dua penyebab , yaitu karena kelebihan beban(
role overloads ) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan
peranan (personrole incompatibilities). Daalm kondisi pertama seseorang
mendapat beban berlebihan akibat status (kedudukan) yang dimilki, sedang dalam
kondisi yang kedua seseorang memang tidak memiliki kesesuaian yang cukup untuk
melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya. Perspektif konflik interindividu
mencakup tiga macam situasi alternatifberikut.
a)
Konflik
pendekatan-pendekatan , seseorang harus memilih di antara dua buah
alternative behavior yang sama-sama atraktif
b)
Konflik
menghindari-menghindari , seseorang dipaksa untuk memilih antara
tujuan-tujuan yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan
c)
Konflik
pendekatan-menghindari multiple , seseorang menghadapi
kemungkinan pilihan kombinasi multiple, dari konflik pendekatan-menghindari
2)
Konflik anatar individu merupakan konflik yang
terjadi antara seseorang dengan satu orang atau lebih, sifatnya kadang-kadang
substantive, menyangkut perbedaan gagasn, pendapat , kepentingan atau bersifat
emosinal, menyangkut perbedaan selera dan perasaan like/dislike (suka/tidak
suka).
3)
Konflik antar kelompok merupakan konflik yang banyak
dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai makhluk social , karena mereka
hidup dalam kelompok-kelompok.
D. DAMPAK ADANYA KONFLIK
a. Dampak secara langsung
Dampak secara langsung merupakan dampak yang secara langsung dirasakan
oleh pihak-pihak yang berkonflik. Adapun dampak secara langsung diantaranya sebagai berikut:
1.
Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau
kelompok dengan individu atau kelompok lainnya.
2.
Adanya perubahan kepribadian seseorang , seperti
selalu memunculkan rasacuriga, rasa benci, dan ajhirnya dapat berubah menjadi
tindakan kekerasan.
3.
Hancurnya korban jiwa da harta benda , konflik
tersebut berubah menjadi tindakan kekerasan.
4.
Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya
keamanan
5.
Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu konflik
berlanjut menjadi tindakan kekerasan.
6.
Pendiddikan formal dan informal terhambat karena
rusaknya sarana dan prasarana pendidikan
b. Dampak tidak langsung
Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak-pihak
yang tidak terlibat langsung dalam sebuah konflik , ataupun dampak jangka
panjang dari suatu konflik yang tidak secara langsung dirasakan oleh
pihak-pihak yang berkonflik.
c. Dampak Positif Adanya Konflik
Adanya dampak yang disakan secara
tidak langsung maupun langsung , sebuah konflik memiliki sisi positif. Yaitu
sebagai berikut:
1.
Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (
in group solidarity )
2.
Munculnya pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji
menghadapi berbagai situasi konflik.
3.
Membantu menghidupkan kembali norma-norma baru.
4.
Munculnya kompromi baru apabila pihak yang
berkonflik dalam kekuatan seimbang. Misalnya adanya kesadaran dari pihak-pihak yangb
berkonflik untuk bersatu kembali yang berlarut tidak membawa keuntungan
bagikedua belah pihak
E.
MODEL
PENYELESAIAN KONFLIK
Metode penyelesaian konflik yang digunakan adalah
dengan cara “Model Intervensi pihak Ketiga” yaitu dengan cara negosiasi. Pengertian
negosiasi menurut para ahli adalah :
1. Hartman, definsi dan pengertian negosiasi
berbeda – beda tergantung dari sudut pandang kedua belah pihak yang terlibat
dalam suatu proses negosiasi. Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat dalam
proses negosiasi, yakni pihak pembeli dan pihak penjual.
2. Oliver, negosiasi adalah sebuah transaksi
dimana kedua belah pihak mempunyai hak atas hasil akhir. Hal ini memerlukan
persetujuan kedua belah pihak sehingga terjadi proses yang saling member dan
menerima sesuatu untuk mencapai suatu kesepakatan bersama.
3. Casse, negosiasi adalah proses dimana
paling sedikit ada dua pihak dengan persepsi, kebutuhan dan motivasi yang
berbeda mencoba untuk bersepakat tentang suatu hal demi kepentingan bersama.
Dalam
kasus ini perlu adanya perundingan untuk mendapatkan kesepakatan. Sehingga
antara pihak perusahaan dan karyawan mendapatkan haknya yang sesuai dan tidak
lagi menimbulkan konflik. Dengan negosiasi menjadi sama-sama tau apa yang
diinginkan dan apa yang diharapkan.
Penyelesaian konflik harus
melibatkan seperangkat perubahan dinamis, yang melibatkan penurunan perilaku
konflik, perubahan sikap, & transformasikan hubungan/ kepentingan yang
berbenturan yang berada dalam inti struktur konflik. Konflik sebagai proses dinamis, dimana struktur,
sikap & perilaku secara konstan berubah & saling pengaruhi. Ketika
konflik muncul, kepentingan pihak-pihak yang bertikai masuk dalam konflik/
hubungan dimana mereka berada menjadi penindas.
F.
CARA
PENGENDALIAN KONFLIK
Pengendalian suatu konfik hanya
mungkin dapat dilakukan apabia berbagai pihak yang berkonflik terorganisir
secra jelas. Menekan sebuah konflik agar tidak berlanjut menjadi sebuah tindak
kekerasan memerlukan strategi pendekatan yang tepat.
a.
Pengendalian
secara umum
1)
Konsiliasi
Konsiliasi merupakan bentuk
pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu
yang dapat memberikan keputusan dengan adil.
2)
Arbitrasi
Arbitrasi merupakan bentuk
pengendalian sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik
menyetujuinya.
3)
Mediasi
Mediasi merupakan bentuk
pengendalian konflik sosial diman pihak-pihak yang berkonflik sepakat menunjuk
pihak ketiga sebagai mediator.
4)
Ajudication
Merupakan cara penyelesaian
konflik melalui pengadilan
b.
Pengendalian
Menggunakan Manajemen Konflik
Disamping cara-cara tersebut
diatas , gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam menghadapi situasi
konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan relatif atas apa yang
dinamakan cooperativeness dan assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi
kebutuhan dan minat individu/kelompok sendiri. Gambar berikut ini menunjukan
lima gaya manajemen konflik berkaitan dengan adanya tekanan relatif diantara keinginan untuk menuju ke arah cooperativeness
atau assertiveness sesuai dengan intensitasnya , mulai dari yang rendah sampai
dengan yang tinggi.
c.
Hasil
Manajemen koflik
Dari gaya manajemen konflik
tersebut kemungkinan hsil yang didapat adalah sebagai berikut
1)
Konflik Kalah-Kalah
2)
Konflik Menang-Kalah
3)
Konflik Menang-Menang
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bahwa konflik adalah suatu proses yang bermula dari
konflik lama yang masih terpendam. Jika tidak diselesaikan akan semakin
membesar dan membahayakan organisasi. Kemudian Untuk menyelesaikannya, Solusi
lah yang tepat untuk diambil dalam membereskan suatu masalah. karena tanpa
solusi masalah tidak akan selesai dan malah akan berakibat panjang untuk
kedepannya baik dalam kehidupan sosial maupun dalam Organisasi/Perusahaan.
Kemampuan menangani konflik tentang terutama yang
menduduki jabatan pimpinan. Yang terpenting adalah mengembangkan pengetahuan
yang cukup dan sikap yang positif terhadap konflik, karena peran konflik yang
tidak selalu negative terhadap organisasi.
Dengan
pengembalian yang cukup senang, pimpinan dapat cepat mengenal, mengidentifikasi
dan mengukur besarnya konflik serta akibatnya dengan sikap positif dan
kemampuan kepemimpianannya, seorang pimpinan akan dapat mengendalikan konflik
yang akan selalu ada, dan bila mungkin menggunakannya untuk keterbukaan
organisasi dan anggota organisasi yang dipimpinnya. Tentu manfaatnya pun dapat
dirasakan oleh dirinya sendiri.
B.
SARAN
Sebaiknya
apabila ada perselisihan atau ada pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat
sebaiknya selesaikanlah dengan cara bermusyawarah antar individu , antar
kelompok yang sedang berkonflik atau berselisih paham. Karena pada dasarnya
manusia itu adalah makhluk social yang tidak bisa hidup sendiri atau sangat
memerlukan adanya sosialisasi dan interaksi social antar warga masyarakat di
sekitarnya. Tidak semua dapat diselesikan melalui kekerasan , karena hal itu
juga menyebabkan kerugian pada individu itu sendiri.
C.
PENUTUP
Jika ada salah-salah
kata, pengucapan, pengejaan, penulisan dan penyebutan sumber saya selaku
penyebar dan penyusun makalah ini meminta maaf sebanyak-banyaknya. Saya menulis
makalah ini untuk memenuhi tugas dari sekolah guna menambah nilai tugas
pelajaran TIK.
DAFTAR PUSAKA
Ø Buku
paket sosiologi SMA kelas XI edisi ketiga tahun 2007, penerbit Yudhistira

Tidak ada komentar:
Posting Komentar